Subscribe

RSS Feed (xml)

Your Comment


Visitors

Free Blog Counter

Powered By

Thanks to:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Supported By

Image Hosted by ImageShack.us

Community Of

Image Hosted by ImageShack.us

Showing posts with label Kemanusiaan. Show all posts
Showing posts with label Kemanusiaan. Show all posts

Thursday, October 25, 2007

Masyarakat Madani dan Sukarelawan di Amerika

Jimmy Carter Jadi Kuli Bangunan

Laporan Anita Anggriany [Tucson, USA]

ADA banyak cara orang untuk melakukan kebaikan kepada sesama manusia. Tidak hanya dengan memberikan uang atau dana. Tetapi di Amerika orang pun bisa menyumbangkan tenaga secara langsung untuk memberi kontribusi bagi kemanusiaan.


JIMMY Carter, mantan Presiden Amerika Serikat yang sangat terkenal itu pun punya cara sendiri untuk mengabdi kepada kemanusiaan. Satu minggu dalam setahun, Jimmy Carter menyediakan waktunya untuk menjadi voluntir atau tenaga relawan menjadi kuli bangunan.

Bersama sebuah LSM Nirlaba Habitat for Humanity di Tucson, Arizona, Amerika Serikat, Jimmy Carter ikut membantu secara langsung membangun rumah-rumah bagi masyarakat setempat yang berpenghasilan rendah, serta penduduk asli Amerika, Indian, serta para imigran dari Meksiko yang tidak memiliki tempat tinggal.

Bersama dengan para napi perempuan dan laki-laki yang diberdayakan, mantan orang nomor satu di negara adikuasa itu, ikut menjadi tukang kayu, memaku, mengangkat balok dan membangun rumah.

Bukan hanya Jimmy, ada pula artis dan masyarakat biasa yang menyumbangkan waktunya untuk ikut berpartisipasi bagi kemanusiaan.

Keterlibatan Jimmy ini diceritakan oleh Direktur Eksekutif Habitat for Humanity, Tucson, Michael McDonald saat kunjungan ke Tucson.

Habitat for Humanity adalah sebuah LSM yang bergerak untuk membangun perumahan murah bagi orang-orang berpenghasilan rendah di Tucson bahkan hingga negara bagian lain.

Bila di pasaran Amerika standar harga rumah berkisar antara USD120-130 ribu, maka mereka menjual rumah dengan kisaran USD90-95 ribu per unit rumah dengan cara mencicil kepada masyarakat berpenghasilan rendah itu untuk mendapat tempat tinggal yang layak.

Rumah yang mereka buat tentu harus sesuai standar dan aturan pemerintah yang berlaku. mereka juga menyediakan asuransi bagi pemilik rumah dengan cara sepertiga dari pembayaran cicilan rumah dibayarkan untuk asuransi.

Tidak sekadar membantu masyarakat memiliki rumah ringan, LSM ini juga memberdayakan masyarakat. Sebagian besar pekerja mereka, adalah para narapidana baik wanita maupun laki-laki yang masa hukumannya sudah hampir berakhir dan dianggap berkelakuan baik selama di penjara.

?Tujuannya agar mereka punya keterampilan ketika mereka keluar dari penjara dan bisa mencari pekerjaan,? ujar Mc Donald.

Mereka juga melibatkan komunitas lain seperti Rainbow Comunitas, yaitu kelompok wanita lesbian yang ingin memberdayakan diri.

Keterlibatan masyarakat dalam upaya untuk menciptakan kehidupan masyarakat menjadi lebih baik terhitung tinggi di Amerika.

Sherry Mueller, Presiden Lembaga National Council for International Visitors (NCIV) yang berkedudukan di Washington mengatakan di Amerika Serikat saat ini ada 1,5 juta organisasi nirlaba yang ikut memikirkan masalah sosial di negara tersebut.

Sebanyak enam persen ada orang yang menerima gaji dari LSM.

Di NCIV, meskipun hanya ada tujuh pekerja yang mengelola LSM tersebut, tetapi mereka memiliki 8000 voluntir yang siap bekerja untuk tujuan program mereka yaitu membantu pemerintah Amerika Serikat menjelaskan kepada penduduk di seluruh dunia tentang citra Amerika Serikat yang baik.

?Misi kami yaitu memajukan diplomasi warga perorangan untuk memiliki tanggung jawab, agar mereka lebih tahu atas apa yang dilakukannya,? ujar Mueller di kantornya di Washington.

Dengan demikian, dunia melalui masyarakat Amerika bisa melihat Amerika dengan pandangan yang berbeda, tidak hanya sepihak.***

Sumber: http://www.fajar.co.id/news.php?newsid=11444


Baca Berita Lengkapnya di Sini

Pascabadai Katrina di New Orleans, Amerika Serikat

Seperti di Aceh, Korban tak Mau Tinggal di Penampungan

Laporan Anita Anggriany [Washington DC, USA]

MUSIBAH memang selalu meninggalkan kepedihan dan penderitaan bagi sebagian besar orang kecil yang termarjinalkan. Tidak hanya di Indonesia, tepatnya di Aceh dan Nias yang terkena badai tsunami. Di negara sebesar Amerika Serikat, tepatnya di Negara Bagian New Orleans, penderitaan serupa pun dialami warga negara mereka yang terkena musibah badai Katrina dua pekan lalu.

IRONISNYA, penderitaan ini berkembang seiring dengan isu ras Afrikan-Amerikan yang memang kebanyakan berdiam di negara bagian di sebelah Utara Amerika itu. Namun isu tersebut terus dibantah Presiden Amerika Serikat, George W Bush. Bantahan itu disampaikan Bush sendiri, maupun melalui juru bicaranya yang selalu diliput media massa Amerika secara terus-menerus sejak Katrina menyerang.

Beban penderitaan yang kini paling berat dialami korban Katrina yaitu kehilangan perumahan dan tempat tinggal yang layak. Padahal menurut Nan P Roman, Presiden National Alliance to End Homelessness (NAEH),-- sebuah LSM yang menangani masalah ketiadaan perumahan bagi warganya-- sebelum badai Katrina menyerang, sudah sangat banyak masyarakat New Orleans yang tidak memiliki rumah.

"Ada sekira 700-an orang yang tidak memiliki rumah sebelum badai Katrina terjadi," ujar Roman, kepada wartawan di kantornya, Washington DC.

Jumlah rakyat miskin ini ternyata tidak hanya di New Orleans. Bahkan, mereka pun ada di tiga negara besar di Amerika Serikat, New York, Washington dan San Francisco.

Sebanyak 80 persen di antara mereka yang miskin karena tidak memiliki pekerjaan. Sisanya 20 persen adalah mereka yang cacat, kecanduan alkohol yang membutuhkan pelayanan sosial lainnya.

Berdasarkan data NAEH itu, jumlah penduduk yang tidak memiliki perumahan di Amerika sekitar 11 persen dari seluruh masyarakat. Memang tidak mudah bagi mereka untuk mendapatkan rumah yang layak di Amerika.

Pemerintah mengatur bahwa mereka harus menyisihkan 30 persen pendapatan mereka untuk membeli rumah. Di sisi lain, biaya hidup di Amerika pun sangat tinggi.

Hingga pertemuan dengan Roman, NAEH belum memiliki data valid berapa besar masyarakat yang kehilangan rumah akibat Katrina. Tetapi, dia meyakinkan bahwa sekitar 80-90 persen, mereka yang berdiam di New Orleans kehilangan rumah.

Seperti halnya yang terjadi di Aceh, banyak pula dari korban yang memilih tetap bertahan di tempatnya. Mereka menolak untuk tinggal di penampungan-penampungan yang disediakan pemerintah.

"Mereka lebih memilih untuk tinggal di dekat rumah mereka. Kami akan menanyakan kepada mereka nanti, apakah yang sebenarnya menjadi keinginan mereka untuk kami lakukan," ujar Roman.

Roman mengatakan, memang masih banyak yang harus dilakukan baik pihaknya maupun pemerintah. Salah satu yang paling dibutuhkan saat ini adalah bagaimana pemerintah bisa menyediakan data yang valid tentang berapa sebenarnya jumlah warga yang kehilangan perumahan.

Roman menyatakan bahwa pemerintahnya cukup 'care' (peduli) dengan warga mereka yang homeless (tidak punya rumah) ini. Pemerintah negara federal ini menyediakan anggaran belanja sebesar USD2 miliar per tahun untuk homeless.

Tidak hanya itu, sebagian pula disediakan anggaran untuk memberi makan penduduk miskin lewat pelayanan sosial. "Jadi, ada kupon makan yang disediakan untuk masyarakat miskin kota," ujar Roman.

Lagipula, kata dia, persoalan ini sebenarnya bukan masalah yang berat bagi pemerintah Amerika Serikat. Meskipun ada sekitar 200-300 orang yang kehilangan rumah akibat badai Katrina. Menurut Roman, mereka sudah bisa mengatasi hal ini karena pengalaman mereka menjalankan beberapa program untuk tuna wisma.

Selain itu, juga memang begitu banyak LSM di Amerika Serikat yang mau bergerak untuk melakukan pekerjaan sosial mengatasi berbagai persoalan tersebut. Selain NAEH, Greater DC Cares, salah satu LSM yang bergerak di bidang kepedulian terhadap masalah sosial ini pun mau bergerak untuk mengatasi persoalan yang dihadapi warga Amerika.

Mereka bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan besar yang mau menyumbangkan dana untuk kemanusiaan dan dikelola oleh LSM ini. Menurut Siobhan Canty, Presiden dan CEO Greater DC Cares, ada sekitar 3500 korban Katrina yang ditampung LSM ini untuk sementara waktu. Kepada mereka dibuatkan dapur umum dan makanan untuk kehidupan sehari-hari.

Canty dengan tegas mengatakan bahwa mereka memang bermitra dengan perusahaan-perusahaan besar yang mau menanamkan 'investasi' kemanusiaan.
DC Cares akan bekerja atas nama perusahaan tersebut pada setiap kegiatan sosial. Mereka mengumpulkan relawan dan mempekerjakan relawan itu untuk penanganan sosial seperti yang terjadi pada badai Katrina dan kerja sosial lainnya.

Dia mengaku, untuk pekerjaan ini perusahaan memang harus membayar mereka. "Mereka harus membayar kita lebih untuk kegiatan investasi yang mereka lakukan," Canty pada suatu kesempatan. Dan mereka siap untuk diaudit terhadap hasil kerja mereka. ***

Sumber : http://www.fajar.co.id/news.php?newsid=10532


Baca Berita Lengkapnya di Sini

Wagub Pimpin Relawan Sulsel ke Aceh

Yayasan Kemanusiaan Fajar Sumbang Rp200 Juta

MAKASSAR -- Sebanyak 96 relawan asal Sulsel ditugaskan untuk membantu korban tsunami dan gempa di Nanggroe Aceh Darussalam.Relawan yang direkrut dari berbagai organisasi dan kelompok pemuda di Sulsel itu dipimpin langsung Wakil Gubernur Sulsel, H Syahrul Yasin Limpo. Relawan asal Sulsel dilepas Gubernur Sulsel, HM Amin Syam di halaman kantor gubernur, Kamis, 6 Januari kemarin.

Selain Syahrul, sejumlah pejabat juga ikut serta mendampingi relawan asal Sulsel itu. Mereka antara lain Walikota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin, Bupati Bantaeng, Azikin Solthan, Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, dr Muhammad Basir Palu, Kepala Biro Kesejahteraan Agama dan Pemberdayaan Perempuan (KAPP) Sulsel, M Saleh Radjab, anggota DPRD Sulsel, Susilo Tamsil Harahap, dan sejumlah pejabat lainnya.

Relawan asal Sulsel diberangkatkan dengan gratis dengan menggunakan pesawat Celebes Air. Pengiriman relawan asal Sulsel melakukan pengiriman ketiga kalinya.

Gubernur Sulsel, HM Amin Syam telah melepas dua kali relawan ke kota serambi Mekah itu sebelumnya. Tetapi dua tim yang diberangkatkan lebih awal merupakan tim kesehatan dan SAR yang selain mengevakuasi mayat juga melakukan perawatan dan pengobatan terhadap korban.

"Saya yakin, saudara-saudara bisa mengemban tugas di sana. Apalagi sebelum diberangkatkan, saudara-saudara sudah dibekali," terang Amin Syam saat melepas relawan itu.

Di samping mengirim relawan, pemerintah provinsi Sulsel juga menyalurkan bantuan untuk korban tsunami. Kamis kemarin, Satgas Relawan Sulsel yang dipimpin Syahrul Yasin Limpo juga membawa bantuan sebesar Rp500 juta dari pemerintah dan masyarakat Sulsel.

Selain pemprov, Yayasan Kemanusiaan Harian Fajar juga membawa sumbangan ke Aceh sebesar Rp200 juta. Bantuan yang terkumpul dari sumbangan pembaca Fajar itu dibawa langsung Ketua Yayasan Kemanusiaan Fajar, Waspada Santing. Radio Suara Celebes FM Makassar juga membawa sumbangan sebesar Rp170 juta yang diantar langsung direkturnya, Peter Gosal.

Lima Mahasiswa Aceh
Rombongan Satgas Sulsel yang mengikutkan sepuluh wartawan termasuk Nita Anggraeni dari Harian Fajar juga membawa pulang ke kampung halamannya lima mahasiswa asal Aceh. Mereka adalah Tarmiji, Salahuddin, Muzakir, Murzakir, Erwin Fitra.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar akan terus memfasilitasi pemulangan mahasiswa asal Aceh. Rencananya, pemberangkatan mahasiswa asal Aceh mendatang akan diterbangkan dengan menggunakan pesawat Adam Air.

Sumber: pap [http://www.fajar.co.id/news.php?newsid=1992]


Baca Berita Lengkapnya di Sini