Subscribe

RSS Feed (xml)

Your Comment


Visitors

Free Blog Counter

Powered By

Thanks to:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Supported By

Image Hosted by ImageShack.us

Community Of

Image Hosted by ImageShack.us

Sunday, October 21, 2007

Supersemar Tetap Misteri: Tak Terungkap dalam Memoar Jenderal M. Yusuf

Laporan Anita Anggriany

JAKARTA---Akhirnya, memoar Jenderal M. Jusuf, salah satu saksi Supersemar (Surat Perintah 11 Maret), terbit. Banyak kesaksian M Jusuf yang belum terungkap ditulis dalam buku yang diberi judul; ''Jenderal M. Jusuf: Panglima Para Prajurit''. Namun, sayang, buku ini tak juga menjawab misteri dokumen keberadaan Supersemar yang asli. Polemik mengenai Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) yang telah berlangsung 40 tahun itu, diharapkan berhenti dengan terbitnya buku berjudul ''Jenderal M Jusuf: Panglima Para Prajurit.'' Memoar yang ditulis wartawan senior Atmadji Sumarkidjo itu, malam tadi dirilis di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden HM Jusuf Kalla, serta para pejabat tinggi negara.

''Tujuan penerbitan buku ini adalah mengakhiri kontroversi Supersemar. Tapi, tidak dimaksudkan memenuhi ekspektasi masyarakat mengenai apakah Supersemar itu asli atau palsu,'' jelas Atmadji.

Turut memberikan penjelasan Mar'ie Muhammad, mantan staf pribadi M. Jusuf saat menjabat menteri perindustrian. Mantan Menkeu itu bertindak selaku ketua panitia penyusunan buku M. Jusuf. Hadir juga memberikan keterangan A.M. Fatwa dan sejarawan Anhar Gonggong.

Atmadji adalah wartawan yang dekat dan banyak dipercaya M. Jusuf. Dia banyak bergaul dengan tokoh asal Sulsel ini. Memoar yang digarap satu tahun 60 hari tersebut melibatkan para pakar, antara lain; peneliti senior LIPI Taufik Abdullah, pengamat militer Salim Said, dan sejarawan UI Anhar Gonggong.

Andi Muhammad Jusuf Amier atau M. Jusuf selalu dikaitkan sebagai saksi kunci Supersemar. Publik sempat mengharapkan jenderal yang dikenal dekat dengan para prajurit itu, bisa mengungkap tabir suksesi politik dari Presiden Soekarno ke Soeharto. Jusuf adalah satu di antara tiga jenderal (Basuki Rachmat, Amirmahmud, dan M. Jusuf) yang menghadap Soekarno di Istana Bogor pada 11 Maret 1966.

Pada 1973, Jusuf, menurut Atmadji, pernah berkata, ''Insya Allah, apabila Tuhan menghendaki di kelak kemudian hari, dengan seizin Pak Harto, mudah-mudahan dapat saya himpunkan keseluruhan atau pun segala peristiwa dan dialog-dialog sejak sebelum 11 Maret sampai sekarang dalam suatu buku.''

Namun, janji itu tak sempat dipenuhi Jusuf karena jenderal yang dikenal berpendirian teguh dan lurus itu keburu menghadap Sang Khalik. Beruntung, Atmadji sempat menyimpan satu fotokopi Supersemar yang diberikan Jusuf pada Mei 1991. Fotokopi Supersemar itu dua lembar, dengan lembar kedua hanya berisi tanggal surat dibuat, 11 Maret 1996, dan tanda tangan Soekarno selaku presiden/panglima tertinggi/pemimpin besar revolusi/mandataris MPRS.

''Kau lihat, ini bunyi surat perintah yang asli,'' kata Jusuf kepada Atmadji kala itu. Fotokopi Supersemar yang diterima Atmadji benar dua lembar sebagaimana sering diucapkan Jusuf. Hal itu berbeda dengan teks serupa yang ada dalam buku-buku sejarah. Namun, meski dua lembar, isinya tetap sama, yaitu memerintahkan Letjen Soeharto selaku Menteri Panglima Angkatan Darat mengambil segala tindakan guna terjaminnya keamanan dan ketenangan pasca G 30 S PKI.

Surat perintah itulah yang kemudian menjadi modal politik Soeharto mengambil alih kekuasaan negara dari Soekarno hingga tumbangnya Orde Baru pada reformasi Mei 1998. Menurut Atmadji, hingga akhir hayatnya, Jusuf tidak mau menjelaskan dari mana fotokopi Supersemar yang diberikan kepadanya. Juga tidak disebutkan di mana Supersemar yang asli.

Mengenai proses terbitnya Supersemar, Jusuf, menurut Atmadji, sempat terganggu oleh munculnya tulisan seorang sejarawan bahwa Soekarno berada dalam tekanan. Bahkan, ada yang menyebut Soekarno ditodong pistol dan salah seorang jenderal yang menghadap sempat menggebrak meja.
''Telaah dan tulisan itu sempat mengganggu pikiran beliau (M. Jusuf) karena hal itu tidak benar sama sekali,'' jelas Atmadji.

Memoar juga mengungkap, suatu saat Jusuf sempat memanggil Jusuf Kalla untuk datang ke rumahnya di Jl Lembang, Jakarta Pusat. Jusuf Kalla dijanjikan akan diperlihatkan kopi Supersemar yang asli. Namun, begitu Kalla sudah tiba di rumah Jusuf dan berharap-harap cemas, M. Jusuf berubah pikiran. ''Ah, kalau aku perlihatkan sekarang, kau nanti cerita-cerita lagi.''

Atmadji mengaku pernah menanyakan apakah M. Jusuf masih menyimpan kopi asli yang pernah dijanjikan kepada JK. Kembali Jusuf tidak menjawab. Dia hanya mengatakan, ''Surat yang asli sudah dibawa Basuki (Basuki Rachmat) ke Soeharto. Jadi, jangan kau tanyakan lagi kepadaku.''

Jadi, naskah asli berada di tangan Soeharto? ''Dari dulu saya tidak yakin kalau Pak Harto tidak tahu naskah yang asli,'' ucap Anhar Gonggong. Anhar sendiri percaya dengan semua yang disampaikan Jusuf. ''Kalau Anda tidak percaya kepada M. Jusuf, ya tidak akan selesai-selesai. Saya sendiri yakin M. Jusuf tidak berbohong,'' katanya.

Mar'ie Muhammad, ketua panitia penerbitan memoar M. Jusuf, menjelaskan, semua mantan presiden dan wakil presiden yang masih ada diundang ke acara peluncuran. Itu artinya termasuk mantan Presiden Soeharto. Namun, panitia tidak dapat konfirmasi mengenai hadir tidaknya Soeharto.

Sementara itu, Presiden RI, Soesilo Bambang Yudhoyono mengingatkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah. Dia berpesan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tetap belajar dari sejarah dan jujur terhadap sejarah.

Tetap Panglima

Wakil Presiden HM Jusuf Kalla, tokoh yang dikenal dekat dengan almarhum juga sempat mengisahkan perjalanan hidupnya bersama Jenderal Jusuf. Setengah jam lebih, JK menuturkan tindak tanduk dan ketegasan Jenderal Jusuf.

Menurut HM Jusuf Kalla, banyak kisah teladan yang didapatkan dari mantan panglima TNI di Sulsel ini. Di antaranya, Jenderal M Jusuf tetap ?ngotot? menjadi panglima ketika berkecamuk Permesta, meskipun prajurit dari Jawa didatangkan ke Sulsel untuk mengatasi persoalan yang terkenal dengan kisah Kahhar Mudzakkar itu.

?Saya tanya mengapa, Pak? Dia katakan, saya tidak mau kalian malu bahwa orang Bugis dikalahkan oleh orang Jawa. Jadi, meskipun prajuritnya dari Jawa tetapi panglimanya tetap saya,? kenang JK.

JK juga mencatat ketekunan dan kemauan yang keras dari Jenderal Jusuf untuk selalu belajar serta menjaga komitmen kebangsaan. Bahkan, untuk masalah ini, dia tak pernah membawa staf atau orang-orang terdekatnya dari Sulsel.

Yang sangat dikenang Wapres dari kisahnya bersama Jenderal Jusuf bahwa sosok tegas dan jujur itu tak pernah mengubah saat menyapa Jusuf Kalla sebelum menjadi pejabat hingga menjadi pejabat pemerintah. Dia tetap menyapa JK dengan sebutan; kau. Bahkan, ketika JK menjabat Menko Kesra, Jenderal Jusuf pernah memerintahkan JK untuk membawa barang dari Jakarta ke Makassar.

?Kalaupun beliau masih hidup dan saya sudah jadi wapres, lalu dia memerintahkan bahwa kau bawa itu barang dari Jakarta ke Makassar maka saya akan bilang, ya, ya nanti saya bawa Pak," ujar JK yang disambut gelak tawa tamu dan undangan.

Menurut JK, hal itu akan tetap dilakukannya. ''Bagi saya dan bagi kita semua, Jenderal M Jusuf adalah tetap panglima,'' tegasnya dengan nada pasti.***

Sumber: Harian Fajar [http://www.fajar.co.id/news.php?newsid=17592]


Baca Berita Lengkapnya di Sini

Kenangan Terakhir Prof Ambo Enre Abullah: Memilih Antara Unismuh dan DPRD Sulsel

Laporan Anita Anggriany

"SETIAP yang bernyawa pasti akan mati". Inna Lillahi Wa Inna Ilahi Radjiun. Janji Allah SWT dalam Kitab Alquran itu kini dibuktikan-Nya lagi.Prof Dr H Ambo Enre Abullah, anggota DPRD Sulsel, Jumat, 25 Maret memenuhi panggilan-Nya menghadap Ilahi Rabbi.

Sebelum kematian menjemput, rektor Universitas Muhammadiyah Makassar ini memberi pesan terakhir kepada sejawatnya.

Duka menyelimuti kediaman di Jalan Toddopuli Raya Nomor 7 Makassar milik keluarga Prof Dr H Ambo Enre Abullah. Jumat siang, 25 Maret, kepala keluarganya, Prof Ambo Enre, berpulang ke Rahmat Allah SWT setelah dirawat selama tiga jam lebih di RS Grestelina Makassar.

Serangan stroke mengakhiri hayat anggota DPRD Sulsel dari Fraksi Golkar itu. Ambo menghembuskan nafas terakhir pada pukul 14.35 Wita di RS Grestelina.

Bapak kelahiran Bulukumba, 20 Juni 1941 itu, meninggalkan istri, Djawariah Yunus dan empat orang anak, Amruddin, Abdul Haq, Abadi dan Arya Diana.

Sore itu, rumah prof Ambo Enre dipenuhi dengan tamu, kerabat, handai tolan, mahasiswa dan rekan anggota DPRD Sulsel yang datang melayat.

Sebagai wakil rakyat, Ambo memiliki banyak rekan dan sejawat. Apalagi beliau juga menjabat sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar. Maka tamu berbagai kalangan terlihat datang membacakan doa untuknya.

Rencananya, hari ini, Sabtu, 26 Maret 2005, Ambo Enre akan dimakamkan di Pemakaman Arab Bontoala, Makassar yang berdekatan dengan makam ibunya.

Menurut kerabat, keluarga masih menunggu kedatangan putera Ambo Enre, Abadi yang sedang bersekolah kepolisian di Jawa.

Kematian Ambo ini memang terasa tiba-tiba. Tetapi sesungguhnya, di akhir-akhir masa hidupnya, Ambo meninggalkan tanda-tanda kepada sejawat di Unismuh.

HM Ikram Idrus, SE MS, Pembantu Rektor Bidang Keuangan, adalah salah satu rekan yang diberi tanda itu, meskipun tak disadarinya.

Dialah yang berbicara terakhir, pada pagi hari, dengan Prof Ambo Enre sebelum kematian menjemput Jumat siang itu.

"Beliau menanyakan saya, bagaimana penyelenggaraan wisuda Unismuh kemarin. Sebab, dia berusaha datang tapi tak sempat. Maka saya mewakilinya sebagai pelaksana rektor," ujar Ikram kepada Fajar, ketika ditemui di rumah duka.

Ambo berhalangan hadir setelah melakukan reses, tugas DPRD Sulsel. Saat itu, Ambo Enre mengatakan, "Alhamdulillah, kalau berjalan lancar," ujar Ikram meniru ucapan terakhir almarhum.

Setelah itu, beberapa jam kemudian keluarga menelepon kembali dan menyampaikan Ambo Enre mengalami keadaan kritis.

Tidak hanya itu, medio Maret ini, tepatnya 17 Maret 2005, Ambo Enre pun meninggalkan pesan dan kesannya lewat rapat senat Unismuh.

Di hadapan sejumlah civitas akademik itu, Ambo Enre membeberkan rahasianya tentang sikapnya apakah akan memilih Unismuh atau DPRD Sulsel.

Sebab, berdasarkan aturan tata tertib DPRD Sulsel, Ambo Enre memang harus memilih bahwa menjadi anggota DPRD tidak boleh merangkap jabatan. Pada saat yang sama dia masih menjabat sebagai rektor Unismuh.

"Saat itu, dia mengatakan akan segera menentukan sikap apakah memilih menjadi wakil rakyat atau Unismuh," ujar Ikram. Akhirnya, Tuhanlah yang memilihkan untuk Ambo Enre. Tidak kedua-duanya, melainkan menghadap Sang Pencipta.***

Sumber: Harian Fajar Makassar [http://www.fajar.co.id/news.php?newsid=4173]


Baca Berita Lengkapnya di Sini